Syi’ah Menurut KH Hasyim Asy’ari

Uncategorized397 Views
banner 468x60

Oleh : Husni Mubarok Al Qudusi

banner 336x280

Syi’ah menyandarkan syariat taqiyyah dari perkataan Imam as-Shadiq Abu Abdillah bahwasanya ia berkata : ”Sesungguhnya sembilan dari sepuluh bagian dari agama adalah taqiyyah, dan tiada agama bagi orang yang tidak bertaqiyyah”. Bohong adalah sifat wajib yang harus dimiliki oleh seorang penganut Syi’ah.

Karena itu, sering kita dapati seorang Syi’ah tulen berbicara masalah ukhuwah islamiyah dan mencela perpecahan. Dan kita tidak boleh luput dari hakikat mereka yang sebenarnya bahwa merekalah asal-usul fitnah dan para pengkhianat ulung sepanjang sejarah yang haus darah semua di halalkan untuk memuluskan nafsunya. Pemerintahan yang sah pun pasti dianggap salah, kebenaran hanya pada mereka.

Bahwa karakteristik mendahulukan sikap moderat/pertengahan, tidak dimiliki oleh Syi’ah sendiri. Akan tetapi ciri khas ini merupakan milik seluruh agama dan keyakinan sesat menyimpang yang sebagiannya mengatasnamakan diri bagian dari ahlussunnah. Walaupun sebenarnya Syi’ah memiliki spesifik yang membedakannya dari keyakinan menyimpang lainnya, bahwasanya agama syiah berdiri diatas berbagai khurafat.

Sejak masa masa awal pendirian NU pada 31 Januari 1926, KH Hasyim Asy’ari sudah mengeluarkan rambu-rambu dalam soal aqidah Islamiyah. Ia berkeyakinan bahwa Syi’ah memiliki perbedaan yang mendasar dalam berbagai ajarannya dengan ajaran AhluSunnah wal-Jamaah.

Meskipun pada masa itu di Indonesia aliran Syi’ah belum sepopuler sekarang, namun KH Hasyim Asy’ari sudah memberikan sinyal problem yang akan ditimbulkan oleh kelompok ini. Peringatan itu ia keluarkan agar warga NU ke depan berhati-hati dalam menyikapi fenomena perpecahan umat akibat ajaran yang bertentangan dengan Ahlu Sunnah wa-Jamaah.

Diantara karya KH Hasyim Asy’ari yang mengupas masalah Syi’ah adalah “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, “Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah,al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin ” dan “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham waal-Aqrab wa al-Akhwan”. Di ketiga kitab itu, KH Hasyim Asy’ari sangat gamblang memberikan kritik terhadap ajaran Syi’ah. Menurutnya, Syi’ah adalah mazhab yang tidak benar.

Dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi,hal.7, KH Hasyim Asy’ari mengkritik golongan yang mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi SAW. Menurutnya, orang atau kelompok yang mengecam para sahabat termasuk ahli bid’ah dan sesat. Berbagai bukti, dari dulu hingga kini, Syi’ah memang tidak henti-hentinya memberikan cacian terhadap sahabat-sahabat Nabi utama seperti Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khatab dan Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhum.

Karena itulah KH Hasyim Asy’ari kemudian menulis bantahannya dalam ketiga kitab tersebut. Dalam kitab-kitab itu ia mengutip hadits Nabi SAW tentang kecaman terhadap orang yang mencaci sahabat-sahabat beliau. Nabi saw antara lain bersabda: ”Janganlah kau menyakiti aku dengan cara menyakiti ‘Aisyah”. “Janganlah kamu caci maki sahabatku. Siapa yang mencaci sahabatku, maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima semua amalnya, baik yang wajib maupun yang sunnah”.

Juga hadits Nabi SAW: “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”.

Sedang dalam kitab “al-Tibyan” KH Hasyim Asy’ari memaparkan pada hampir setiap halaman, kutipan pendapat para ulama salaf tentang keutamaan sahabat dan laknat bagi orang yang mencelanya. Diantara ulama yang banyak dikutip adalah Ibnu Hajar al Asqalani, dan al Qadli Iyyadh. Secara khusus Syaikh Hasyim mengutip hadits yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa’iq al-Muhriqah, yang menghimbau agar para ulama yang memiliki ilmu meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi SAW itu.

Dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, hal. 9, KH Hasyim Asy’ari, mengingatkan perlunya berpegang pada mazhab yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Beliau meminta agar Syiah dijauhi. Tentu saja ini sebagai peringatan bagi warga Nahdlyin untuk berhati-hati menghadapi perkembangan aliran-aliran di luar madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya Syiah.

Waallahu Alam

1001571361
banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *